Rabu, 31 Juli 2013

RUMUS LENGKAP
KIMIA SMA
BAB 1 
MATERI

MENENTUKAN KADAR ZAT DALAM CAMPURAN

1.  PROSENTASE MASSA


  2.   PROSENTASE VOLUME


  3.  BAGIAN PER SEJUTA / bpj ( Part Per Million / ppm ) MASSA

  

  4.  BAGIAN PER SEJUTA / bpj ( Part Per Million / ppm ) VOLUME



PERUBAHAN MATERI

1.   PERUBAHAN FISIKA
►  Tidak terjadi perubahan permanen pada susunan zat dan jenis zat, yang berubah hanya
sifat fisiknya saja.

2.   PERUBAHAN KIMIA  
►  Terjadi perubahan sifat : ada endapan, suhu berubah, ada gelembung gas, warna
berubah.
   ►  Terjadi perubahan susunan zat.
  ►  Terbentuk zat baru dengan sifat yang sama sekali berbeda dengan sifat  zat asalnya
     (perubahan sifat permanen).








6volume komponenbpj volume =  x 10
volume  campuran

6massa  komponen bpj massa =  x 10
massa  campuran

volume  komponen% volume =  x 100 %
volume  campuran

massa  komponen% massa =  x 100 %
massa  campuran

BAB 2
ATOM dan STRUKTUR ATOM

JENIS ATOM
  ►  Atom Netral = Atom yang tidak bermuatan listrik

 

  
   
►  Kation = Atom bermuatan positif 
  
 

  ►  Anion = Atom bermuatan negatif 



BILANGAN KUANTUM
 
Bilangan yang menentukan letak keberadaan elektron suatu atom.
  a.   Bilangan kuantum utama ( n ) 
    menyatakan nomor kulit tempat terdapatnya elektron, jenisnya :
    K ( n = 1 ), L ( n = 2 ), M ( n = 3 ), N ( n = 4 ), dst.
  b.   Bilangan kuantum azimuth ( ℓ ) 
    menyatakan sub kulit tempat terdapatnya elektron, jenisnya :     
s = sharp nilai ℓ = 0  d = diffuse nilai ℓ = 2
p = principal nilai ℓ = 1  f = fundamental nilai ℓ = 3
  
Untuk n = 1  Π ℓ = 0  ( sharp )
Untuk n = 2  Π ℓ = 0  ( sharp )
ℓ = 1  ( principal )
Untuk n = 3  Π ℓ = 0  ( sharp )
ℓ = 1  ( principal )
ℓ = 2  ( diffuse )
Untuk n = 4  Π ℓ = 0  ( sharp )
ℓ = 1  ( principal )
ℓ = 2  ( diffuse )
ℓ = 3  ( fundamental )
   c.   Bilangan kuantum magnetik ( m )
    menyatakan orbital tempat terdapatnya elektron, jenisnya :     
Untuk ℓ = 0  Π m = 0
Untuk ℓ = 1  Π m = –1
m = 0
m = +1
Untuk ℓ = 2  Π m = –2
m = –1
m = 0
m = +1
m = +2
proton      = nomor atom
elektron    =  nomor atom + muatan
netron      = massa atom – nomor atom
proton      = nomor atom
elektron    = nomor atom – muatan
netron      = massa atom – nomor atom
proton   = nomor atom
elektron   = nomor atom
netron   = massa atom – nomor atom
Untuk ℓ = 3  Π m = –3
m = –2
m = –1
m = 0
m = +1
m = +2
m = +3
    Suatu orbital dapat digambarkan sebagai berikut :

  



d.   Bilangan kuantum spin ( s )
    menyatakan arah elektron dalam orbital. 
   Jenisnya : + ½ dan – ½ untuk setiap orbital ( setiap harga m )

                               
                    
MENENTUKAN LETAK ELEKTRON   
Untuk menentukan letak elektron maka perlu mengikuti aturan-aturan tertentu yang sudah
ditetapkan.






Diagram di bawah ini adalah cara untuk mempermudah menentukan  tingkat  energi  orbital  dari
yang terendah ke yang lebih tinggi yaitu :







 

 
Urutannya adalah:  1s  2s  2p  3s  3p  4s  3d  4p  5s  4d  

       5p  6s  4f  5d  6p  7s  5f  6d  7p
   
qr  q = +½
r = –½
Aturan Aufbau : Elektron-elektron mengisi orbital dari tingkat energi terendah baru tingkat 
energi yang lebih tinggi
1 s

  
2 s

2 p  
3 s

3 p          3 d  
4 s

4 p          4 d  4 f
5 s

5 p          5 d  5 f
6 s

6 p          6 d  6 f
7 s  7 p          7 d  7 f

s  p  d  f
–1 0  0 +1  –1 0 +1–2 +2 –1 0+1–2 +2–3 +3
nilai m
Larangan Pauli : Tidak diperbolehkan di dalam atom terdapat elektron yang mempunyai  
 keempat bilangan kuantum yang sama
Aturan Hund : Elektron-elektron tidak membentuk pasangan elektron sebelum masing-
   masing orbital terisi sebuah elektron
BAB 3
SISTEM PERIODIK UNSUR

Golongan Utama (Golongan A)
  





 
Golongan Transisi (Golongan B)

 






SIFAT PERIODIK UNSUR
  Sifat unsur yang meliputi :
  ► Jari-jari atom
  ► Jari-jari kation
  ► Kebasaan
  ► Kelogaman
  ► Keelektropositifan
  ► Kereaktifan positif
  Mempunyai kecenderungan seperti yang digambarkan di bawah ini :




  Sedangkan sifat unsur yang meliputi :
  ►  Potensial ionisasi ( energi ionisasi )
  ► Afinitas elektron
  ► Keasaman
  ► Kenon-logaman
  ►  Keelektronegatifan ( maksimal di golongan VIIA )
  ► Kereaktifan negatif
  ► Keasaman oksi
Semakin ke bawah cenderung semakin besar.
Semakin ke kanan cenderung semakin kecil.
Golongan Utama  Elektron Valensi  Nama Golongan
IA ns1
 Alkali
IIA ns2
 Alkali Tanah
IIIA ns2
 np1
 Boron
IVA ns2
 np2
 Karbon
VA ns2
 np3
 Nitrogen
VIA ns2
 np4
  Oksigen / Kalkogen
VIIA ns2
 np5
 Halogen
VIIIA ns2
 np6
 Gas Mulia
Golongan Transisi  Elektron Valensi
IB (n-1)d10
ns1

IIB (n-1)d10
ns2

IIIB (n-1)d1
ns2

IVB (n-1)d2
ns2

VB (n-1)d3
ns2

VIB (n-1)d5
ns1

VIIB (n-1)d5
ns2

VIIIB (n-1)d6
ns2

VIIIB (n-1)d7
ns2

VIIIB (n-1)d8
ns2


  Mempunyai kecenderungan seperti yang digambarkan di bawah ini :




 























Semakin ke bawah cenderung semakin kecil.
Semakin ke kanan cenderung semakin besar.
BAB 4
IKATAN dan SENYAWA KIMIA

1.   IKATAN ION ( IKATAN ELEKTROVALEN / HETEROPOLAR )
► Ikatan atom unsur logam (atom elektropositif) dengan atom unsur non logam (atom
elektronegatif).
  ►  Unsur logam melepas elektron dan memberikan elektronnya pada unsur non logam.
 
2.   IKATAN KOVALEN ( HOMOPOLAR )
  ►  Ikatan atom unsur non logam dengan atom unsur non logam.
  ►  Pemakaian bersama elektron dari kedua unsur tersebut.

3.  IKATAN KOVALEN KOORDINATIF(DATIV)
  ►  Ikatan atom unsur non logam dengan atom unsur non logam.
  ►  Pemakaian bersama elektron dari salah satu unsur.

4.   IKATAN VAN DER WAALS
  
  a.  Gaya dispersi (gaya London)
  ►  Terjadi gaya tarik menarik antara molekul-molekul non polar yg terkena aliran elektron 
(dipol sesaat) dengan molekul non polar   disebelahnya yang terpengaruh (dipol
terimbas) yang berdekatan.
   ►  Gaya tarik antar molekulnya relatif lemah.

 b.  Gaya Tarik dipol
   ►  Gaya tarik antara molekul-molekul kutub positif dengan kutub negatif.
►  Gaya tarik antar molekulnya lebih kuat dari gaya tarik antara molekul dipol sesaat - dipol
terimbas.

5. IKATAN HIDROGEN
►  Terjadi antara atom H dari suatu molekul dengan atom F atau atom O atau atom N pada
molekul lain.
  ►  Ada perbedaan suhu tinggi dan sangat polar di antara molekul-molekulnya.
   
6. IKATAN LOGAM
►  Ikatan ion logam dengan ion logam dengan bantuan kumpulan elektron sebagai pengikat
atom-atom positif logam.
  ►  Ikatannya membentuk kristal logam.

BENTUK GEOMETRI MOLEKUL
  Berbagai kemungkinan bentuk molekul : 
Jumlah
pasangan
elektron atom
pusat
Pasangan
elektron
terikat
Pasangan
elektron
bebas  Bentuk molekul  Contoh
4 4 0 Tetrahedron CH4
4  3  1   Segitiga piramid   NH3
4 2 2 Planar V H2O
5 5 0  Segitiga bipiramid  PCl5
5 4 1 Bidang empat SF4
5 3 2 Planar T IF3
5 2 3  Linear XeF2
6 6 0 Oktahedron SF6
6 5 1 Segiempat piramid IF5
6 4 2 Segiempat planar XeF4

HIBRIDISASI
Proses pembentukan orbital karena adanya gabungan (peleburan) dua atau lebih orbital atom
dalam suatu satuan atom. 
 
  Berbagai kemungkinan hibridisasi dan bentuk geometri orbital  hibridanya sebagai berikut : 
Orbital
hibrida  Jumlah ikatan  Bentuk geometrik
sp 2  Linear
sp2
  3  Segitiga datar samasisi
sp3
 4  Tetrahedron
sp2
d 4  Persegi datar
sp3
d 5  Segitiga Bipiramidal
sp3
d2
 6  Oktahedron

SIFAT SENYAWA ION dan SENYAWA KOVALEN
Sifat  Senyawa Ion  Senyawa Kovalen
Titik didih & titik leleh  Relatif tinggi  Relatif rendah
Volatilitas  Tidak menguap  Mudah menguap
Kelarutan dalam air  Umumnya larut  Tidak larut
Kelarutan dalam senyawa
organik
Tidak larut  Larut
Daya hantar listrik (padat)  Tidak menghantar  menghantar
Daya hantar listrik (lelehan)  menghantar  menghantar
Daya hantar listrik (larutan)  menghantar  sebagian menghantar















BAB 5
STOIKIOMETRI 
MASSA ATOM RELATIF

       
 
Menentukan massa atom relatif dari isotop-isotop di alam
  Di alam suatu unsur bisa di dapatkan dalam 2 jenis atau bahkan lebih isotop, oleh karena itu
kita dapat menentukan massa atom relatifnya dengan rumus:
  Untuk 2 jenis isotop :
 
% kelimpahan X1. Ar X1 + % kelimpahan X2 . Ar X2 Ar X =
100%

 
Untuk 3 jenis isotop :
 
% kelimpahan X1. Ar X1 + % kelimpahan X2 . Ar X2 + % kelimpahan X3 . Ar X3 Ar X =
100%


MASSA MOLEKUL RELATIF 


Menentukan mol sebagai perbandingan massa zat dengan Ar atau perbandingan massa zat
dengan Mr.

Mol =  massa
Ar
 atau Mol =  massa
Mr


1. Rumus Empiris
Adalah rumus kimia yang menyatakan perbandingan paling sederhana secara numerik
antara atom-atom penyusun molekul suatu zat.
mol A : mol B : mol C
  2. Rumus Molekul
Adalah rumus kimia yang menyatakan jumlah sesungguhnya atom-atom dalam suatu
susunan molekul.
(RE)x = Massa Molekul Relatif
x = faktor pengali Rumus Empiris

HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA

  1.   Hukum Lavoisier ( Kekekalan Massa )
        Menyatakan bahwa massa zat sebelum reaksi sama dengan massa zat setelah reaksi.
 
  2.   Hukum Proust ( Ketetapan Perbandingan )
Menyatakan dalam suatu senyawa perbandingan massa unsur-unsur penyusunnya selalu
tetap.

  3.  Hukum Dalton ( Perbandingan Berganda )
Jika unsur A dan unsur B membentuk lebih dari satu macam senyawa, maka untuk massa
unsur A yang tetap, massa unsur B dalam senyawanya berbanding sebagai bilangan bulat
sederhana.
121
12
massa satu molekul senyawa ABMr senyawa AB =
massa satu atom  C

121
12
massa satu atom unsur AAr unsur A =
massa satu atom  C

HUKUM-HUKUM KIMIA UNTUK GAS
 
  1.   Hukum Gay Lussac ( Perbandingan Volume )
Volume gas-gas yang bereaksi dengan volume gas-gas hasil reaksi akan berbanding
sebagai bilangan (koefisien) bulat sederhana jika diukur pada suhu dan tekanan yang
sama.
 

 

    Hukum Gay Lussac tidak menggunakan konsep mol.

2.   Hukum Avogadro
Dalam suatu reaksi kimia, gas-gas dalam volume sama akan mempunyai jumlah molekul
yang sama jika diukur pada suhu dan tekanan yang sama.
      



 
RUMUS GAS DALAM BERBAGAI KEADAAN
  ►  Dalam keadaan standar ( Standard Temperature and Pressure ) atau ( 0o
C, 1atm ):

 

►  Dalam keadaan  ruang ( 25o
C, 1atm) berlaku :

►  Rumus Gas Ideal
    Berlaku untuk gas dalam setiap keadaan :

 
P  =  tekanan gas ( atm )  
V  =  volume gas ( dm3
 atau liter )  
n  =  mol gas ( mol )  
R  =  tetapan gas ( liter.atm/K.mol )  = 0,08205
T =  suhu absolut ( Kelvin ) = o
C + 273

Rumus ini biasanya digunakan untuk mencari volume atau tekanan gas pada suhu tertentu di
luar keadaan standard atau keadaan ruang.








P V = n R T
AA A
BB B
koefisien gas n gas volume gas
 =   =
koefisien gas n gas volume gas
AA
BB
koefisien gas volume gas
 =
koefisien gas volume gas

1 mol gas = 22,4 liter
1 mol gas = 24 liter
BAB 6
LAJU REAKSI

LAJU REAKSI
  Jadi jika ada suatu persamaan aP + bQ Æ cPQ, maka;
  Laju reaksi adalah : 
  ►  berkurangnya konsentrasi P tiap satuan waktu Î VP =  [P]
t
−Δ
Δ
 atau,
  ►  berkurangnya konsentrasi Q tiap satuan waktu Î VQ =  [Q]
t
−Δ
Δ
 atau,
  ►  bertambahnya konsentrasi PQ tiap satuan waktu Î VPQ =  [PQ]
t

Δ


PERSAMAAN LAJU REAKSI
Persamaan laju reaksi hanya dapat dijelaskan melalui percobaan, tidak   bisa hanya dilihat dari
koefisien reaksinya.
  Adapun persamaan laju reaksi untuk reaksi: aA + bn Æ cC + dD,  adalah : 

V  =  laju reaksi    [B]  =  konsentrasi zat B
k = konstanta laju reaksi  m = orde reaksi zat A
[A]  =  konsentrasi zat A    n  =  orde reaksi zat B
  Catatan;
Pada reaksi yang berlangsung cepat orde reaksi bukan koefisien masing-masing zat.
 
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU REAKSI

1.   Konsentrasi
Bila konsentrasi bertambah maka laju reaksi akan bertambah. Sehingga  konsentrasi
berbanding lurus dengan laju reaksi.

2.   Luas permukaan bidang sentuh
Semakin luas permukaan bidang sentuhnya maka laju reaksi juga semakin bertambah.
Luas permukaan bidang sentuh berbanding lurus dengan laju reaksi.

3.  Suhu
Suhu juga berbanding lurus dengan laju reaksi karena bila suhu reaksi dinaikkan maka laju
reaksi juga semakin besar.
Umumnya setiap kenaikan suhu sebesar 10o
C akan memperbesar laju reaksi dua sampai
tiga kali, maka berlaku rumus :
 

V1 = Laju mula-mula
V2  =  Laju setelah kenaikan suhu
T1 = Suhu mula-mula
T2 = Suhu akhir
Catatan : Bila besar laju 3 kali semula maka (2) diganti (3) !
  Bila laju diganti waktu maka (2) menjadi (½)
 
4.   Katalisator
Adalah suatu zat yang akan memperlaju ( katalisator positif ) atau memperlambat                
( katalisator negatif=inhibitor )reaksi tetapi zat ini tidak berubah secara tetap. Artinya bila
proses reaksi selesai zat ini akan kembali sesuai asalnya.

T2 T1
10V2 = (2) . V1


V = k [A]m
[B]n

BAB 7
TERMOKIMIA

Skema reaksi Endoterm:






 
  Cara penulisan Reaksi Endoterm :  
► A + B +   kalor  Æ AB   
► A + B      Æ AB –  kalor
► A   +  B      Æ AB  ∆ H = positif 

Skema reaksi Eksoterm:






 
  Cara penulisan Reaksi Eksoterm:
► A  +  B  –    kalor  Æ AB   
► A + B      Æ AB +  kalor
► A   +  B      Æ AB  ∆ H = negatif
 
ENTALPI 
Jumlah energi total yang dimiliki oleh suatu sistem, energi ini akan selalu tetap jika tidak ada
energi lain yang keluar masuk. Satuan entalpi adalah joule atau kalori Î (1 joule = 4,18 kalori).

JENIS-JENIS ENTALPI
1.  Entalpi  Pembentukan (Hf)
Kalor (energi) yang dibutuhkan atau dilepas pada peristiwa pembentukan 1 mol senyawa
dari unsur-unsur pembentuknya. 

2.   Entalpi Penguraian (Hd)
Kalor (energi) yang dibutuhkan atau dilepas pada peristiwa penguraian 1 mol senyawa
menjadi unsur-unsur pembentuknya.

SISTEM kalor  kalor
kalor
kalor
LINGKUNGAN

SISTEM
kalor
kalor
LINGKUNGAN

kalor  kalor
∆ H = H hasil – H pereaksi, dengan H hasil > H pereaksi
∆ H = H hasil – H pereaksi, dengan H pereaksi > H hasil
3.   Entalpi Pembakaran (Hc)
Kalor (energi) yang dibutuhkan atau dilepas pada peristiwa pembakaran 1 mol senyawa
atau 1 mol unsur.
 
MENGHITUNG ENTALPI

1.   Berdasarkan Data Entalpi pembentukan (Hf)
   Dengan menggunakan rumus : 

  
2.   Berdasarkan Hukum HESS
Perubahan enthalpi yang terjadi pada suatu reaksi hanya tergantung pada keadaan mula-mula dan keadaaan akhir reaksi, jadi tidak tergantung pada proses reaksinya.
 Perhatikan: 
C(s) + ½ O2(g)  Æ  CO (g)    ∆H = –A kJ/mol
C(s) + O2(g)  Æ  CO2(g)   ∆H = –B kJ/mol
CO (g)  +  ½ O2(g)  Æ  CO2(g)   ∆H = –C kJ/mol
      

 menjadi:
C(s) + ½ O2(g)  Æ  CO (g)    ∆H = –A kJ/mol
CO2(g)  Æ  C(s) + O2(g)   ∆H = +B kJ/mol
CO (g)  +  ½ O2(g)  Æ  CO2(g)   ∆H = –C kJ/mol
   

Menurut Hukum Hess, pada reaksi di atas : 
 
  3.   Berdasarkan Energi Ikatan
Energi ikatan adalah energi yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan antar atom tiap mol
suatu zat dalam keadaan gas.
   Energi Ikatan Rata-rata
Energi rata-rata yang dibutuhkan untuk memutuskan 1 mol senyawa gas menjadi atom-atomnya. Misal molekul air mempunyai 2 ikatan O – H yang sama, untuk memutuskan
kedua ikatan ini diperlukan energi sebesar 924 kJ tiap mol, maka 1 ikatan O – H
mempunyai energi ikatan rata-rata 462 kJ.
Untuk menentukan besar entalpi jika diketahui energi ikatan rata-rata dapat digunakan
rumus:

    Adapun data energi ikatan beberapa molekul  biasanya disertakan dalam soal.

Energi Atomisasi
   Energi yang dibutuhkan untuk memutus molekul kompleks dalam 1 
mol senyawa menjadi atom-atom gasnya.

  

4.   Berdasarkan Kalorimetri
    Dengan menggunakan rumus 

 
q : kalor reaksi
m : massa zat pereaksi
c : kalor jenis air
∆T : suhu akhir – suhu mula-mula
∆H = H hasil reaksi – H pereaksi
q = m. c. ∆T
reaksi di balik
∆ H atomisasi = Σ energi ikatan
∆H = Σ energi ikatan pemutusan – Σ energi ikatan pembentukan
∆ H reaksi = – A + B – C
BAB 8
KESETIMBANGAN KIMIA

TETAPAN KESETIMBANGAN 
Adalah perbandingan komposisi hasil reaksi dengan pereaksi pada keadaan setimbang dalam
suhu tertentu.
  Tetapan kesetimbangan dapat dinyatakan dalam: 
  ►  Tetapan Kesetimbangan Konsentrasi (Kc) 
  ►  Tetapan Kesetimbangan Tekanan  (Kp)
  Misal dalam suatu reaksi kesetimbangan: pA   +   qB    ⇔   rC   +   sD
  Maka di dapatkan tetapan kesetimbangan sebagai berikut:

  Tetapan Kesetimbangan Konsentrasi:
 

  Tetapan Kesetimbangan Tekanan:
  
 

HUBUNGAN Kc dan Kp

 
∆n = jumlah koefisien kanan – jumlah koefisien kiri

TETAPAN KESETIMBANGAN REAKSI YANG BERKAITAN   
Misalkan suatu persamaan :
aA + bB  ⇔  cAB   Kc = K1
        
maka :       
cAB  ⇔  aA + bB   Kc =  1
K1

        
½aA + ½bB  ⇔  ½cAB Kc = K1½
        
2aA + 2bB  ⇔  2cAB    Kc = K12

        
2cAB  ⇔  2aA + 2bB   Kc =
2
2
1
K1


DERAJAT DISOSIASI
Derajat disosiasi adalah jumlah mol suatu zat yang mengurai di bagi  jumlah mol zat sebelum
mengalami penguraian.

        α =  jumlah mol zat terurai
jumlah mol zat semula


PERGESERAN KESETIMBANGAN
Suatu sistem walaupun telah setimbang sistem tersebut akan tetap mempertahankan
kesetimbangannya apabila ada faktor-faktor dari luar yang mempengaruhinya.
Kp = Kc ( RT )∆n

Kc =
rs
pq
[C] [D]
[A] [B]

Kp =
rs
CD
pq
AB
(P ) (P )
(P ) (P )

Menurut Le Chatelier : Apabila dalam suatu sistem setimbang diberi suatu aksi dari luar maka
sistem tersebut akan berubah sedemikian rupa  supaya aksi dari luar tersebut berpengaruh
sangat kecil terhadap sistem.
 
Hal-hal yang menyebabkan terjadinya pergeseran:
 

1.   Perubahan konsentrasi
►  Apabila salah satu konsentrasi zat diperbesar maka kesetimbangan mengalami
pergeseran yang berlawanan arah dengan zat tersebut.     
   ►  Apabila konsentrasi diperkecil maka kesetimbangan akan bergeser ke arahnya. 

2.  Perubahan tekanan
► Apabila tekanan dalam sistem kesetimbangan diperbesar maka kesetimbangan
bergeser ke arah zat-zat yang mempunyai koefisien kecil.
   ►  Apabila tekanan dalam sistem kesetimbangan tersebut diperkecil maka         
      kesetimbangan bergeser kearah zat-zat yang mempunyai koefisien besar.
 
  3.   Perubahan volume
►  Apabila volume dalam sistem kesetimbangan diperbesar maka kesetimbangan bergeser
ke arah zat-zat yang mempunyai koefisien besar.
   ►  Apabila volume dalam sistem kesetimbangan tersebut diperkecil maka         
      kesetimbangan bergeser ke arah zat-zat yang mempunyai koefisien kecil.

Catatan : Untuk perubahan tekanan dan volume, jika koefisien zat-zat di kiri ( pereaksi ) dan 
kanan ( hasil  reaksi ) sama maka tidak terjadi pergeseran kesetimbangan
 
  4.   Perubahan suhu
►  Apabila suhu reaksi dinaikkan atau diperbesar maka kesetimbangan akan bergeser ke
zat-zat yang membutuhkan panas (ENDOTERM)
►  Sebaliknya jika suhu reaksi diturunkan kesetimbangan akan bergeser ke zat-zat yang
melepaskan panas (EKSOTERM)












Perubahan sistem akibat aksi dari luar = Pergeseran Kesetimbangan
BAB 9
TEORI ASAM-BASA dan KONSENTRASI LARUTAN

TEORI ASAM-BASA
  1.   Svante August Arrhenius
►  Asam = senyawa yang apabila dilarutkan dalam air menghasilkan ion hidrogen (H+
) atau
ion hidronium (H3O+
)
   ►  Basa = senyawa yang apabila dilarutkan dalam air menghasilkan ion hidroksida (OH–
)
 
  2.   Johanes Bronsted dan Thomas Lowry ( Bronsted-Lowry ) 
   ►  Asam = zat yang bertindak sebagai pendonor proton (memberikan proton) pada basa.
   ►  Basa = zat yang bertindak sebagai akseptor proton (menerima proton) dari asam.

        
 

3.   Gilbert Newton Lewis 
►  Asam = suatu zat yang bertindak sebagai penerima (akseptor) pasangan elektron.
►  Basa = suatu zat yang bertindak sebagai pemberi (donor) pasangan elektron.

     
KONSENTRASI LARUTAN
 1. MOLALITAS
  Menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1 kg (1000 gram) pelarut.


 m = Molalitas
massat = massa zat terlarut
massap = massa pelarut
Mr  =  massa molekul relatif zat terlarut
 
  2. MOLARITAS
  Menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter (1000 mililiter) larutan.


M = Molaritas
massat = massa zat terlarut
volume = volume larutan
Mr  =  massa molekul relatif zat terlarut

Pada campuran zat yang sejenis berlaku rumus:

  

Mc = molaritas campuran    Vc = volume campuran
M1  =  molaritas zat 1    V1 = volume zat 1
M2  =  molaritas zat 2    V2 = volume zat 2
Mn  =  molaritas zat n    Vn = volume zat n


Asam Æ Basa Konjugasi + H+
  Basa + H+
 Æ Asam Konjugasi
t
tp
massa 1000m =  x
Mr massa  (gram)

Mc. Vc = M1.V1 + M2.V2  + … + Mn.Vn
t
t
massa 1000M =  x
Mr volume (mililiter)

Pada pengenceran suatu zat berlaku rumus:


M1 = molaritas zat mula-mula
M2  =  molaritas zat setelah pengenceran
V1  =  volume zat mula-mula
V2  =  volume zat setelah pengenceran

3. FRAKSI MOL
Menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam jumlah mol total larutan atau menyatakan jumlah mol
pelarut dalam jumlah mol total larutan.
 



Xt  =  fraksi mol zat terlarut
Xp = fraksi mol pelarut
nt = mol zat terlarut
np = mol pelarut

MENGHITUNG pH LARUTAN
  Untuk menghitung pH larutan kita gunakan persamaan-persamaan dibawah ini :


Untuk mencari [H+
] dan [OH–
] perhatikan uraian dibawah ini !

ASAM KUAT + BASA KUAT

1.  Bila keduanya habis, gunakan rumus:


2.  Bila Asam Kuat bersisa, gunakan rumus:
                     

3.  Bila Basa Kuat bersisa, gunakan rumus: 


ASAM KUAT + BASA LEMAH

1.  Bila keduanya habis gunakan rumus HIDROLISIS:


 
2.  Bila Asam Kuat bersisa, gunakan rumus:


[H+
] = Konsentrasi Asam Kuat x Valensi Asam
[OH–
] = Konsentrasi  Basa Kuat x Valensi  Basa
pH larutan = 7 ( netral )
[H+
] =  Kw  x Konsentrasi KATION Garam
Kb

[H+
] = Konsentrasi Asam Kuat x Valensi Asam
pH = –log [H+
]  pOH = –log [OH–
] pH = 14 – pOH atau
ntXt  =
nt + np
  npXp =
nt + np

Xt + Xp = 1
M1. V1   =   M2.V2
3.  Bila Basa Lemah bersisa, gunakan rumus BUFFER:
  


ASAM LEMAH + BASA KUAT

1.  Bila keduanya habis gunakan rumus HIDROLISIS:



2.  Bila Basa Kuat bersisa, gunakan rumus:


3.  Bila Asam Lemah bersisa, gunakan rumus BUFFER:

 


ASAM LEMAH + BASA LEMAH

1.  Bila keduanya habis gunakan rumus HIDROLISIS:

  

2.  Bila Asam Lemah bersisa, gunakan rumus:

 
  3.  Bila Basa Lemah bersisa, gunakan rumus:












[OH–
] = Kb x  Basa Lemah
Garam
Konsentrasi sisa
Konsentrasi

[OH–
] =  Kw  x Konsentrasi ANION Garam
Ka

[OH–
] = Konsentrasi  Basa Kuat x Valensi  Basa
[H+] = Ka x  Asam Lemah
Garam
Konsentrasi sisa
Konsentrasi

[H+
] =  Kw  x Ka
Kb

[H+
] =  Ka x Konsentrasi Asam Lemah 
[OH–
] =  Kb x Konsentrasi Basa Lemah 
BAB 10
KELARUTAN dan HASILKALI KELARUTAN

KELARUTAN
Kelarutan ( s ) adalah banyaknya jumlah mol maksimum zat yang dapat larut dalam suatu
larutan yang bervolume 1 liter.

HASILKALI KELARUTAN
Hasilkali kelarutan ( Ksp ) adalah hasil perkalian konsentrasi ion-ion   dalam suatu larutan
jenuh zat tersebut. Di mana konsentrasi tersebut dipangkatkan dengan masing-masing
koefisiennya.    
HCl Æ H+
 + Cl–
           Ksp HCl = s2
  Î s =  Ksp 
    s        s       s
   
H2SO4 Æ 2 H+
 + SO4
2–
    Ksp = [2s]2
 s = 4 s3   
Î s =  3
Ksp
4

     s           2s        s

H3PO4 Æ 3 H+
 + PO4
3–
    Ksp = [3s]3
 s = 27 s4
   Î s =  4
Ksp
27

      s            3s        s

MEMPERKIRAKAN PENGENDAPAN LARUTAN
Apabila kita membandingkan Hasilkali konsentrasi ion (Q) dengan Hasilkali kelarutan (Ksp)
maka kita dapat memperkirakan apakah suatu larutan elektrolit tersebut masih larut, pada
kondisi tepat jenuh, atau mengendap, perhatikan catatan berikut;














Jika Q < Ksp Î elektrolit belum mengendap / masih melarut
Jika Q = Ksp Î larutan akan tepat jenuh
Jika Q > Ksp Î elektrolit mengendap
BAB 11
SIFAT KOLIGATIF LARUTAN 
SIFAT KOLIGATIF LARUTAN NON ELEKTROLIT

Contoh larutan non elektrolit: 
Glukosa (C6H12O6), Sukrosa (C12H22O11), Urea (CO(NH2)2), dll
 
  1.  Penurunan Tekanan Uap (∆P)
  

  


∆P  =  Penurunan tekanan uap 
Po
  =  Tekanan Uap Jenuh pelarut murni
P  =  Tekanan Uap Jenuh larutan
Xt  =  Fraksi mol zat terlarut
Xp = Fraksi mol pelarut
 
  2.   Kenaikan Titik Didih (∆Tb)
  

 

∆Tb = Kenaikan Titik Didih
Tblar  =  Titik Didih larutan 
Tbpel = Titik Didih pelarut
Kb  =  tetapan Titik Didih Molal pelarut 
m = Molalitas larutan
 
  3.  Penurunan Titik Beku (∆Tf)
 


∆Tf  =  Penurunan Titik Beku
Tfpel   =  Titik Beku pelarut
Tflar  =  Titik Beku larutan
Kb  =  tetapan Titik Beku Molal pelarut 
m = Molalitas larutan

4.  Tekanan Osmotik (π)

 
π = Tekanan Osmotik
M = Molaritas larutan
R = Tetapan gas = 0,08205
T  =  Suhu mutlak  = ( o
C + 273 ) K 
  
∆P = Po
 – P
∆P = Xt . Po

P = Xp . Po

∆Tb = Tblar – Tbpel
∆Tb = Kb . m
∆Tf = Tfpel – Tflar 
∆Tf = Kf . m
π = M . R . T
SIFAT KOLIGATIF LARUTAN ELEKTROLIT

Contoh Larutan elektrolit : 
NaCl, H2SO4, CH3COOH, KOH, dll

  Untuk larutan elektrolit maka rumus-rumus di atas akan dipengaruhi   oleh :

 
i  =  Faktor van Hoff 
n  =  Jumlah koefisien hasil penguraian senyawa ion
α = Derajat ionisasi
α  untuk asam kuat atau basa kuat = 1

Perhatikan:
Larutan NaCl diuraikan:  
NaCl Æ Na+
 + Cl–
 jumlah koefisien 2 maka:   i = 1 + ( 2 – 1 ) 1 = 2

Larutan Ba(OH)2 diuraikan:  
Ba(OH)2 Æ Ba2+
 + 2 OH–
 jumlah koefisien 3 maka: i = 1 + ( 3 – 1 ) 1 = 3
 
 Larutan MgSO4 diuraikan:  
MgSO4 Æ Mg2+
 + SO4
2–
 jumlah koefisien 2 maka: i = 1 + ( 2 – 1 ) 1 = 2
 
  1.  Penurunan Tekanan Uap (∆P)
 




∆P  =  Penurunan tekanan uap 
Po
  =  Tekanan Uap Jenuh pelarut murni
P  =  Tekanan Uap Jenuh larutan
Xt  =  Fraksi mol zat terlarut
Xp = Fraksi mol pelarut
nt = Mol zat terlarut
np = Mol pelarut
i = faktor van Hoff
  
  2.  Kenaikan Titik Didih (∆Tb)
 


∆Tb  =  Kenaikan Titik Didih 
Tblar  =  Titik Didih larutan 
Tbpel = Titik Didih pelarut
Kb  =  tetapan Titik Didih Molal pelarut 
m = Molalitas larutan
i = faktor van Hoff
 
i = 1 + ( n – 1 ) α
∆Tb = Tblar – Tbpel
∆Tb = Kb . m . i
∆P = Po
 – P
∆P = Xt . Po
  P = Xp . Po
nt x iXt  =
(nt x i) + np

npXp =
(nt x i) + np
  3.  Penurunan Titik Beku (∆Tf)



∆Tf  =  Penurunan Titik Beku
Tfpel   =  Titik Beku pelarut
Tflar  =  Titik Beku larutan
Kb  =  tetapan Titik Beku Molal pelarut 
m = Molalitas larutan
i = faktor van Hoff

4.  Tekanan Osmotik (π)


π = Tekanan Osmotik
M = Molaritas larutan
R  =  Tetapan gas = 0,08205 
T  =  Suhu mutlak  = ( o
C + 273 ) K 
i = faktor van Hoff
  
















π = M . R . T . i
∆Tf = Tfpel – Tflar 
∆Tf = Kf . m . i
BAB 12
SISTEM KOLOID LARUTAN KOLOID SUSPENSI
homogen heterogen 
tampak seperti homogen
heterogen
dimensi: < 1 nm  dimensi: 1 nm − 100nm  dimensi: > 100 nm
tersebar merata  cenderung mengendap  membentuk endapan
jika didiamkan: 
tidak memisah
jika didiamkan: 
tidak memisah
jika didiamkan: memisah

tidak dapat dilihat dengan
mikroskop ultra
dapat dilihat dengan
mikroskop ultra
dapat dilihatdengan
mikroskop biasa
jika disaring: tidak bisa

jika disaring:bisa 
(saringan membran)
jika disaring:bisa 
(saringan biasa)

SIFAT-SIFAT KOLOID
 Efek Tyndall
  Efek Tyndall adalah peristiwa menghamburnya cahaya, bila cahaya itu 
 dipancarkan melalui sistem koloid.
  Gerak Brown
  Gerak Brown adalah gerakan dari partikel terdispersi dalam sistem koloid yang terjadi karena
adanya tumbukan antar partikel tersebut, gerakan ini sifatnya acak dan tidak berhenti. Gerakan
ini hanya dapat   diamati dengan mikroskop ultra.
 Elektroforesis
  Elektroforesis adalah suatu proses pengamatan imigrasi atau   berpindahnya partikel-partikel
dalam sistem koloid karena pengaruh  medan listrik. Sifat ini digunakan untuk menentukan jenis
muatan koloid.
 Adsorbsi
  Adsorbsi adalah proses penyerapan bagian permukaan benda atau ion yang dilakukan sistem
koloid sehingga sistem koloid ini mempunyai  muatan listrik. Sifat adsorbsi koloid digunakan
dalam berbagai proses   seperti penjernihan air dan pemutihan gula.
 Koagulasi
  Suatu keadaan di mana partikel-partikel koloid membentuk suatu  gumpalan yang lebih besar.
Penggumpalan ini karena beberapa faktor antara lain karena penambahan zat kimia atau
enzim tertentu.

JENIS-JENIS KOLOID   
No Terdispersi  Pendispersi  Nama  Contoh
1  Cair  Gas  Aerosol Cair  Kabut, awan
2  Padat  Gas  Aerosol Padat  Asap, debu
3  Gas  Cair  Buih  Busa sabun, krim kocok
4  Cair  Cair  Emulsi  Susu, minyak ikan, santan 
5  Padat  Cair  Sol  Tinta, cat, sol emas
6  Gas  Padat  Buih Padat  Karet busa, batu apung
7  Cair  Padat  Emulsi Padat  Mutiara, opal
8  Padat  Padat  Sol Padat  Gelas warna, intan

CARA MEMBUAT SISTEM KOLOID
  Ada dua metode pembuatan sistem koloid :


Larutan  Koloid  Suspensi Kondensasi Dispersi
BAB 13
REDUKSI OKSIDASI dan ELEKTROKIMIA 
KONSEP REDUKSI OKSIDASI
 
  1.  Berdasarkan pengikatan atau pelepasan Oksigen
Reaksi Oksidasi = peristiwa pengikatan oksigen oleh suatu unsur  atau  senyawa,  atau  bisa
dikatakan penambahan kadar oksigen.
Reaksi Reduksi = peristiwa pelepasan oksigen oleh suatu senyawa,   atau  bisa  dikatakan
pengurangan kadar oksigen.


  2.  Berdasarkan pengikatan atau pelepasan Elektron
Reaksi Oksidasi = peristiwa pelepasan elektron oleh suatu unsur   atau senyawa.
Reaksi Reduksi = peristiwa pengikatan elektron oleh suatu unsur atau senyawa.

  


3.   Berdasarkan bilangan oksidasi
    Reaksi Oksidasi adalah meningkatnya bilangan oksidasi
    Reaksi Reduksi adalah menurunnya bilangan oksidasi


 
Ada beberapa aturan bilangan oksidasi untuk menyelesaikan persoalan reaksi reduksi
oksidasi berdasarkan bilangan oksidasi :

►  Atom logam mempunyai Bilangan Oksidasi positif sesuai muatannya, 
   misalnya : 
Ag+
 = bilangan oksidasinya +1
Cu+
 = bilangan oksidasinya +4
Cu2+
 = bilangan oksidasinya +2
Na+
 = bilangan oksidasinya +1
Fe2+
= bilangan oksidasinya +2
Fe3+
= bilangan oksidasinya +3
Pb2+
= bilangan oksidasinya +2
Pb4+
 = bilangan oksidasinya +1

►  Bilangan Oksidasi H dalam H2= 0, dalam senyawa lain mempunyai Bilangan Oksidasi = +1,
dalam senyawanya dengan logam (misal: NaH, KH, BaH) atom H mempunyai Bilangan
Oksidasi = –1.

►  Atom O dalam O2 mempunyai Bilangan Oksidasi = 0, dalam senyawa F2O mempunyai
Bilangan Oksidasi = +2, dalam senyawa peroksida 
   (misal: Na2O2, H2O2) O  mempunyai Bilangan Oksidasi = –1.

►  Unsur bebas (misal :Na, O2, H2, Fe, Ca C dll) mempunyai Bilangan Oksidasi = 0

►  F mempunyai Bilangan Oksidasi = –1

OKSIDASI = mengikat Oksigen
REDUKSI = melepas Oksigen
OKSIDASI = melepas Elektron
REDUKSI = mengikat Elektron
OKSIDASI = peningkatan Bilangan Oksidasi
REDUKSI = penurunan Bilangan Oksidasi
►  Ion yang terdiri dari satu atom mempunyai Bilangan Oksidasi sesuai   dengan muatannya,
misalnya S2–
,Bilangan Oksidasinya = –2.

►  Jumlah Bilangan Oksidasi total dalam suatu senyawa netral = nol

►  Jumlah Bilangan Oksidasi total dalam suatu ion = muatan ionnya
 
MENYETARAKAN REAKSI REDUKSI OKSIDASI
  1.   METODE BILANGAN OKSIDASI (REAKSI ION)
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1.  Menentukan unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi
2.  Menyetarakan unsur tersebut dengan koefisien yang sesuai
3.  Menentukan peningkatan bilangan oksidasi dari reduktor dan penu-runan bilangan oksidasi
dari oksidator
 

4.   Menentukan koefisien yang sesuai untuk menyamakan jumlah perubahan bilangan oksidasi
5.   Menyetarakan muatan dengan menambahkan H+
 ( suasana asam ) atau OH–
 ( suasana
basa )
6.   Menyetarakan atom H dengan menambahkan H2O

Bila ada persamaan bukan dalam bentuk reaksi ion usahakan ubah ke dalam bentuk reaksi
ion.

2.  METODE SETENGAH REAKSI (ION ELEKTRON)
Langkah-langkahnya sebagai berikut :
1.  Tuliskan masing-masing setengah reaksinya.
2.  Setarakan atom unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi
3.  Setarakan oksigen dan kemudian hidrogen dengan ketentuan
 





4.  Setarakan muatan dengan menambahkan elektron dengan jumlah yang sesuai, bila reaksi
oksidasi tambahkan elektron di ruas kanan, bila reaksi reduksi tambahkan elektron di ruas
kiri
5.  Setarakan jumlah elektron kemudian selesaikan persamaan.
 
ELEKTROKIMIA
1.   SEL GALVANI atau SEL VOLTA
►  Sel yang digunakan untuk mengubah energi kimia menjadi energi  listrik. 
►  Dalam sel ini berlangsung reaksi redoks di mana katoda ( kutub positif ) dan tempat
terjadinya reduksi, sedangkan anoda ( kutub  negatif ) dan tempat terjadinya oksidasi.

    Notasi penulisan sel volta: 


jumlah perubahan bil-oks = jumlah atom x perubahannya
Suasana ASAM / NETRAL
3  Tambahkan 1 molekul H2O untuk setiap kekurangan 1 atom
 oksigen pada ruas yang kekurangan oksigen tersebut
3  Setarakan H dengan menambah ion H+
 pada ruas yang lain
Suasana BASA
3  Tambahkan 1 molekul H2O untuk setiap kelebihan 1 atom
 oksigen pada ruas yang kelebihan oksigen tersebut
3  Setarakan H dengan menambah ion OH–
 pada ruas yang lain
MMA+
  LB+
  L
Anoda  Katoda
M  :  Logam yang mengalami oksidasi 
MA+
  :  Logam hasil oksidasi dengan kenaikan bil-oks = A
L  :  Logam hasil reduksi
LB+
  :  Logam yang mengalami reduksi dengan penurunan bil-oks = B

    Potensial Elektroda ( E ) 
  Potensial listrik yang muncul dari suatu elektroda dan terjadi apabila   elektroda ini dalam
keadaan setimbang dengan larutan ion-ionnya.
Atau menunjukkan beda potensial antara elektroda logam dengan elektroda hidrogen yang
mempunyai potensial elektroda = 0 volt.

    Bila diukur pada 25o
C, 1 atm:

Adapun urutan potensial elektroda standar reduksi beberapa logam ( kecil ke besar )
adalah :



 Keterangan :
►  Li sampai Pb mudah mengalami oksidasi, umumnya bersifat reduktor
►  Cu sampai Au mudah mengalami reduksi, umumnya bersifat oksidator
►  Logam yang berada di sebelah kiri logam lain, dalam reaksinya akan lebih mudah
mengalami oksidasi
Potensial Sel = Eo
sel dirumuskan sebagai : 

  
Reaksi dikatakan spontan bila nilai Eo
sel  = POSITIF
  
SEL ELEKTROLISIS
►  Sel yang digunakan untuk mengubah energi listrik menjadi energi  kimia. 
►  Dalam sel ini berlangsung reaksi redoks di mana katoda ( kutub negatif ) dan tempat
terjadinya reduksi, sedangkan anoda ( kutub positif ) dan tempat terjadinya oksidasi.

Elektrolisis Leburan ( Lelehan / Cairan )
Apabila suatu lelehan dialiri listrik maka di katoda terjadi reduksi   kation  dan  di  anoda  terjadi
oksidasi anion.
 
Jika leburan CaCl2 dialiri listrik maka akan terion menjadi Ca2+
 dan Cl–
 dengan reaksi sebagai
berikut : CaCl2 Æ Ca2+
 + 2 Cl–

  
  Kation akan tereduksi di Katoda, Anion akan teroksidasi di Anoda.
  KATODA (Reduksi)  :  Ca2+
 + 2e  Æ  Ca
  ANODA (Oksidasi)  :  2 Cl–
     Æ Cl2 + 2e

 Hasil Akhir: Ca2+
 + 2 Cl–
  Æ  Ca + Cl2
 
Elektrolisis Larutan   
  Bila larutan dialiri arus listrik maka berlaku ketentuan sebagai berikut :

Reaksi di KATODA  ( elektroda – )
►  Bila Kation Logam-logam golongan I A, golongan II A, Al, dan Mn,  maka  yang tereduksi
adalah air ( H2O ):

  
Potensial elektroda = Potensial elektroda standar ( Eo
)
Eo
sel = Eo
reduksi – Eo
oksidasi
deret Volta
2 H2O ( l ) + 2e Æ H2( g ) + 2 OH–
 ( aq )
Li-K-Ba-Ca-Na-Mg-Al-Mn-Zn-Cr-Fe-Cd-Ni-Co-Sn-Pb-(H)-Cu-Hg-Ag-Pt-Au

►  Bila Kation H+
 maka akan tereduksi: 


►  Bila Kation Logam lain selain tersebut di atas, maka logam tersebut akan tereduksi:


  Reaksi di ANODA ( elektroda + )
  ANODA Inert ( tidak reaktif, seperti Pt, Au, C )
► Bila Anion sisa asam atau garam oksi seperti SO4
2–
, NO3

, dll, maka yang teroksidasi
adalah air ( H2O ):


► Bila anion OH–
 maka akan teroksidasi :


►  Bila Anion golongan VII A ( Halida )maka akan teroksidasi :

 

 
  ANODA  Tak Inert 
  ►  Anoda tersebut akan teroksidasi:


Larutan MgSO4  dialiri listrik maka akan terion menjadi Mg2+
 dan SO4
2–
dengan reaksi sebagai
berikut: MgSO4 ÆMg2+
 + SO4
2–

  
3  Yang tereduksi di Katoda adalah air karena potensial reduksinya lebih besar dari Mg2+
 (ion
alkali tanah)
3 Yang teroksidasi di Anoda adalah air karena elektrodanya inert (C) dan potensial
oksidasinya lebih besar dari SO4
2–
 (sisa garam atau asam oksi)
  KATODA (Reduksi)  :   2 H2O + 2e   Æ H2+ 2 OH–
 
  ANODA (Oksidasi)  :   2 H2O      Æ O2+ 4 H+
 + 4e 

Menyamakan elektron:
KATODA (Reduksi)  :  2 H2O + 2e   Æ H2+ 2 OH–
     (x2)
  ANODA (Oksidasi)  :  2 H2O      Æ O2 + 4 H+
 + 4e

  Hasil Akhir:   4 H2O + 2 H2O  Æ  H2 + 2 OH–
  + O2 + 4 H+
    
6 H2O   Æ 2 H2 + O2 + 4 OH–
  +  4 H+



HUKUM FARADAY
  Hukum Faraday 1 : 
  massa zat yang dibebaskan pada reaksi elektrolisis  sebanding dengan jumlah arus listrik
dikalikan dengan waktu elektrolisis
  Hukum Faraday 2 : 
  massa zat yang dibebaskan pada reaksi elektrolisis sebanding dengan massa ekivalen zat
tersebut:
2 H+
 ( aq ) + 2e Æ H2( g ) 
Lm+
 ( aq ) + me Æ L( s ) 
2 H2O ( l ) Æ O2( g ) + 4 H+
 ( aq ) + 4e
4 OH–
 ( aq ) Æ O2 ( g ) + 2 H2O ( l ) + 4e
2 F–
 ( aq ) Æ F2 ( g ) + 2e  2 Br–
 ( aq ) Æ Br2 ( g ) + 2e
2 Cl–
 ( aq ) Æ Cl2 ( g ) + 2e  2 I–
 ( aq ) Æ I2 ( g ) + 2e
L( s ) Æ Lm+
 ( aq ) + me
4 H2O

 

  Dari hukum Faraday 1 dan Faraday 2 didapatkan rumus:


i = kuat arus
t = waktu 
me  =  massa ekivalen zat

Dari hukum  Faraday 2 diperoleh rumus:

 
m1 = Massa zat 1
m2 = Massa zat 2
me1  =  Massa ekivalen zat 1
me2  =  Massa ekivalen zat 2


















massa =  i . t . me
96500

massa ekivalen = me =
massa atom relatif
perubahan bil-oks

m1 m e1 =
m2 me2

BAB 14
KIMIA ORGANIK

SENYAWA ORGANIK 
Senyawa organik adalah senyawa yang dihasilkan oleh makhluk hidup, senyawa ini
berdasarkan strukturnya diklasifikasikan menjadi:















SENYAWA JENUH DAN SENYAWA TIDAK JENUH

1.   Senyawa Jenuh 
Adalah senyawa organik yang tidak mempunyai ikatan rangkap atau   tidak  dapat  mengikat
atom H lagi.

ALKANA 
Senyawa organik yang bersifat jenuh atau hanya mempunyai ikatan tunggal, dan mempunyai
rumus umum :

n  =  jumlah atom karbon ( C )
2n + 2  =  jumlah atom hidrogen ( H )



CnH2n + 2
Senyawa Organik
Senyawa Alifatik  Senyawa Siklik
Senyawa Jenuh
Senyawa Tidak Jenuh
Karbosiklik
Contoh:
Alkana
Turunan Alkana
Alkanol/alkohol
Contoh:
Alkena
Turunan Alkena
Alkuna
Alisiklik
Contoh:
Sikloalkana
Aromatik
Contoh:
Benzena
Naftalena
Antrasena
Heterosiklik
Contoh:
Pirimidin
Purin
  Beberapa senyawa alkana
  Atom C   Rumus Molekul  Nama
1 CH4 Metana
2 C2H6 Etana
3 C3H8 Propana
4 C4H10 Butana
5 C5H12 Pentana
6 C6H14 Heksana
7 C7H16 Heptana
8 C8H18 Oktana
9 C9H20 Nonana
10 C10H22 Dekana
 
Kedudukan atom karbon dalam senyawa karbon :

 


  C primer = atom C yang mengikat satu atom C lain  Π ( CH3 )
  C sekunder = atom C yang mengikat dua atom C lain  Π ( CH2 )
  C tersier = atom C yang mengikat tiga atom C lain Π ( CH )
  C kuartener = atom C yang mengikat empat atom C lain Π ( C )

Gugus Alkil
Gugus yang terbentuk karena salah satu atom hidrogen dalam alkana digantikan oleh unsur
atau senyawa lain. Rumus umumnya :

  Beberapa senyawa alkil
  Atom C   Rumus Molekul  Nama
1 CH3 -  metil
2 C2H5 - etil
3 C3H7 -  propil
4 C4H9 -  butil
5 C5H11 -  amil

PENAMAAN ALKANA MENURUT IUPAC
1.  Untuk rantai C terpanjang dan tidak bercabang nama alkana sesuai jumlah C tersebut dan
diberi awalan n (normal).

2.   Untuk rantai C terpanjang dan bercabang beri nama alkana sesuai   jumlah  C  terpanjang
tersebut, atom C yang tidak terletak pada rantai  terpanjang sebagai cabang (alkil).
   ►  Beri nomor rantai terpanjang dan atom C yang mengikat alkil di nomor terkecil.
  ►  Apabila dari kiri dan dari kanan atom C-nya mengikat alkil di nomor yang sama
   utamakan atom C yang mengikat lebih dari satu alkil terlebih dahulu.
►  Alkil tidak sejenis ditulis namanya sesuai urutan abjad, sedang yang sejenis
dikumpulkan dan beri awalan sesuai jumlah alkil tersebut; di- untuk 2, tri- untuk 3 dan
tetra- untuk 4.
  
2.   Senyawa Tidak Jenuh
Adalah senyawa organik yang mempunyai ikatan rangkap sehingga pada reaksi adisi ikatan
itu dapat berubah menjadi ikatan tunggal dan mengikat atom H.

 

CnH2n + 1
CH3  C CH
CH3
CH3
CH2  CH2  CH3
CH3
ALKENA
  Alkena adalah senyawa organik yang bersifat  tak jenuh mempunyai ikatan rangkap dua, dan
mempunyai rumus umum:

n  =  jumlah atom karbon ( C )
2n   =  jumlah atom hidrogen ( H )
   
Beberapa senyawa alkena 
Atom C   Rumus Molekul  Nama
1 -  -
2 C2H4 Etena
3 C3H6 Propena
4 C4H8 Butena
5 C5H10 Pentena
6 C6H12 Heksena
7 C7H14 Heptena
8 C8H16 Oktena
9 C9H18 Nonena
10 C10H20 Dekena

  PENAMAAN ALKENA MENURUT IUPAC
1.  Rantai terpanjang mengandung ikatan rangkap dan ikatan rangkap di  nomor terkecil dan
diberi nomor sesuai letak ikatan rangkapnya.
  
2.  Untuk menentukan cabang-cabang aturannya seperti pada alkana.
   
  ALKUNA
  Alkuna adalah senyawa organik yang bersifat tak jenuh mempunyai   ikatan  rangkap  tiga,  dan
mempunyai rumus umum :

n  =  jumlah atom karbon ( C )
2n – 2   =  jumlah atom hidrogen ( H )
  
  Beberapa senyawa alkuna 
Atom C   Rumus Molekul  Nama
1   
2 C2H2 Etuna
3 C3H4 Propuna
4 C4H6 Butuna
5 C5H8 Pentuna
6 C6H10 Heksuna
7 C7H12 Heptuna
8 C8H14 Oktuna
9 C9H16 Nonuna
10 C10H18 Dekuna

PENAMAAN ALKUNA MENURUT IUPAC
  1.  Rantai terpanjang mengandung ikatan rangkap dan ikatan rangkap di nomor terkecil dan 
diberi nomor, sama seperti pada alkena.   

2.   Untuk menentukan cabang-cabang aturannya seperti pada alkana dan alkena, jelasnya
perhatikan contoh berikut:

 ALKADIENA
  Alkadiena adalah senyawa organik yang bersifat tak jenuh mempunyai 2 buah ikatan rangkap
dua.
CnH2n 
CnH2n – 2 
 
ISOMER
Isomer adalah senyawa-senyawa dengan rumus molekul sama tetapi  rumus struktur atau
konfigurasinya.

1.   Isomer Kerangka
  Rumus molekul dan gugus fungsi sama , tetapi rantai induk berbeda
  



2.   Isomer Posisi
  Rumus molekul dan gugus fungsi sama, tetapi posisi gugus fungsinya berbeda
 


3.   Isomer Fungsional ( Isomer gugus fungsi )
Rumus molekul sama tetapi gugus fungsionalnya berbeda, senyawa-senyawa yang berisomer
fungsional:

3  Alkanol ( Alkohol ) dengan Alkoksi Alkana ( Eter )
3  Alkanal ( Aldehid ) dengan Alkanon ( Keton )
3  Asam Alkanoat ( Asam Karboksilat ) dengan Alkil Alkanoat ( Ester )
  Contoh: 










 



C C  C  C  OH  CC C C
OH
dengan
C C C C  C

C C
C
C  C dengan
berisomer fungsi dengan CH3  CH2  OH CH2
propanol
CH3 CH3 O CH2
metoksi etana
berisomer fungsi dengan CH3  CH2  CHO
propanal
CH3  CH3 CO
propanon
berisomer fungsi dengan CH3  CH2 COOH
asam propanoat
CH3  CH3 COO
 metil etanoat
H  C2H5 COO
 etil metanoat
 juga berisomer fungsi dengan CH3  CH2 COOH
asam propanoat
4.   Isomer Geometris
Rumus molekul sama, rumus struktur sama, tetapi berbeda susunan  ruang  atomnya  dalam
molekul yang dibentuknya   




5.   Isomer Optis
  Isomer yang terjadi terutama pada atom C asimetris ( atom C terikat   pada 4 gugus berbeda )
 




GUGUS FUNGSIONAL
  Gugus fungsi adalah gugus pengganti yang dapat menentukan sifat   senyawa karbon. 
Homolog  Rumus  Gugus
Fungsi IUPAC Trivial
Alkanol  Alkohol R — OH — OH
Alkil Alkanoat  Eter  R — OR’  — O —
Alkanal  Aldehid  R — CHO  — CHO 
Alkanon  Keton  R — COR’  — CO —
Asam
Alkanoat
Asam
Karboksilat  R — COOH  — COOH
Alkil Alkanoat  Ester  R — COOR’  — COO — 
   
1.  ALKANOL 
    Nama Trivial ( umum ) : Alkohol
    Rumus  : R — OH
    Gugus Fungsi : — OH

Penamaan Alkanol menurut IUPAC
1.   Rantai utama adalah rantai terpanjang yang mengandung gugus OH.
    2.   Gugus OH harus di nomor terkecil.







berisomer geometris dengan
CH3
C
H
C
CH3
H
cis 2-butena
CH3
C
H
C
CH3
H
trans 2-butena
* C = C asimetris mengikat CH3, H, OH, dan C3H7
CH3  CH2  CH2  CH2  CH2
OH
1-pentanol
CH3  CH  CH2  CH  CH3
OH
4-metil-2-pentanol
CH3  OH di nomor 2, bukan 4, jadi bukan 4-pentanol
tetapi2-pentanol
CH3  CH2  CH2  CH3 CH
OH
2-pentanol
CH3
H
CH3 C
OH
CH2  CH2
1- pentanol
*
2.   ALKOKSI ALKANA 
    Nama Trivial ( umum ) : Eter
    Rumus  : R — OR’
    Gugus Fungsi : — O —

Penamaan Alkoksi Alkana menurut IUPAC
    1.  Jika gugus alkil berbeda maka yang C-nya kecil sebagai alkoksi
    2.   Gugus alkoksi di nomor terkecil
  


 



3.   ALKANAL 
    Nama Trivial ( umum ) : Aldehida
    Rumus  : R — COH
    Gugus Fungsi : — COH

Penamaan Alkanal menurut IUPAC
  Gugus CHO selalu dihitung sebagai nomor 1



 






 
4.   ALKANON
    Nama Trivial ( umum ) : Keton
    Rumus  : R — COR’
    Gugus Fungsi : — CO —

Penamaan Alkanon menurut IUPAC
  1.  Rantai terpanjang dengan gugus karbonil CO adalah rantai utama
  2.  Gugus CO harus di nomor terkecil




butanal CH3  CH2  CH2  C
O
H
CH3  CH  CH2  C
O
H
CH3
3-metilbutanal
CH3  C  CH2  C
O
H
CH3
C2H5
3,3-dimetilpentanal
metoksi metana CH3  O  CH3
CH3  CH2
CH3
CH  CH
C2H5
O  CH3  5-metil-3-metoksi heksana 
gugus metoksi di nomor 3
bukan di nomor 4
metoksi etana CH3  O  C2H5










5.   ASAM ALKANOAT
    Nama Trivial ( umum ) : Asam Karboksilat
    Rumus  : R — COOH
    Gugus Fungsi : — COOH

Penamaan Asam Alkanoat menurut IUPAC
  Gugus COOH selalu sebagai nomor satu
 







6.   ALKIL ALKANOAT
    Nama Trivial ( umum ) : Ester
    Rumus  : R — COOR’
    Gugus Fungsi : — COO —

Penamaan Alkil Alkanoat menurut IUPAC


  Gugus alkilnya selalu berikatan dengan O



asam butanoat CH3  CH2  CH2  C
O
OH
CH3  C  CH2  C
O
OH
CH3
C3H
asam 3,3-dimetilheksanoat
2-pentanon CH3  CH2  CH2  C  CH3
O
4-metil-2-heksanon CH3  CH  CH2  C  CH3
O
C2H5
4-metil-3-heksanon CH3  CH  CH2 C  CH3
O
C2H5
asam 3-metilpentanoat CH3  CH  CH2  C
O
OH
C2H5
alkanoat
R    C
O
OR
alkil
  
 





GUGUS FUNGSI LAIN

AMINA
  Nama Trivial ( umum ) : Amina
  Rumus  : R — NH2

Penamaan Amina menurut IUPAC dan Trivial
Amina Primer



Amina Sekunder


 Amina Tersier



SENYAWA SIKLIK
 
BENZENA
Benzena adalah suatu senyawa organik aromatis, yang mempunyai 6 atom karbon dan 3
ikatan rangkap yang berselang-seling (berkonjugasi) dan siklik ( seperti lingkaran ).

Strukturnya :




  Simbol : 
  
  Reaksi  Benzena

1.   Adisi
  Ciri reaksi adisi adalah adanya perubahan ikatan rangkap menjadi ikatan tunggal.
  Adisi dilakukan oleh H2 atau Cl2 pada suhu dan tekanan tinggi.
HC
H
C
HC  CH
CH
C
H
etil butanoat CH3  CH2  CH2  C
O
OC2H5
CH3  CH2  CH2  CH2  NH2  1-amino-butana / butil amina
metil pentanoat C2H5  CH2  CH2  C
O
OCH3
metil metanoat H  C  OCH3
O
3-amino-pentana / sekunder amil amina CH3  CH2  CH  CH2  CH3
NH2
dietil amina CH3  CH2  NH  CH2  CH3
etil-dimetil-amina CH3  CH2  N  CH3
CH3
 




2. Sustitusi
Ciri reaksi substitusi tidak ada perubahan ikatan rangkap menjadi  ikatan tunggal atau
sebaliknya. Sustitusi benzena di bedakan menjadi:
  
Monosubstitusi
Penggantian satu atom hidrogen pada benzena dengan atom atau senyawa gugus yang lain.
  Rumus umum monosubstitusi : C6H5A

 



 
 Struktur  Nama

1.



Toluena

2.

 
Fenol

3.

 
Benzaldehida

4.

  
Asam
Benzoat

5.

  
Anilin

6.

  
Stirena

Disubstitusi
Penggantian dua atom hidrogen pada benzena dengan atom atau senyawa gugus yang lain.
Ada tiga macam disubstitusi:



 
A
A = pengganti atom hidrogen HC
H
C
HC  C—A
CH
C
H
atau secara simbolik
HC
H
C
HC  CH
CH
C
H
   +    3 H2  Æ
H2C
 H2
C
H2C  CH2
CH2
C
 H2
   Siklo heksana
CH3
OH
CH
O
CO
O
NH2
CH
CH2
A
meta 
A
A
orto 
A A
para 
A
  NAFTALENA
Naftalena adalah suatu senyawa organik aromatis, yang mempunyai 10   atom karbon dan 5
ikatan rangkap yang berselang-seling (berkonjugasi) dan double siklik ( seperti 2 lingkaran ).



 

ANTRASIN
Antrasin atau antrasena adalah suatu senyawa organik aromatis, yang mempunyai 14 atom
karbon .





ASPEK BIOKIMIA
Biokimia adalah cabang ilmu kimia untuk mempelajari peristiwa kimia (reaksi kimia) yang
terjadi dalam tubuh makhluk (organisme) hidup.

Senyawa kimia yang termasuk biokimia adalah senyawa-senyawa yang   mengandung atau
tersusun oleh unsur-unsur seperti : karbon ( C ),  Hidrogen ( H ), Oksigen ( O ), Nitrogen ( N )
Belerang ( S ) Fosfor ( P ),  dan beberapa unsur lain dalam jumlah yang kecil. 

  Nutrisi yang diperlukan dalam tubuh
 Nutrisi  Fungsi  Sumber
1. Karbohidrat  Sumber energi,   Nasi, kentang, gandum, umbi-umbian
2. Lemak  Sumber energi  Mentega, margarine, minyak
3.  Protein  Pertumbuhan dan perbaikan
jaringan, pengontrol reaksi kimia
dalam tubuh
Daging, ikan, telur, kacang-kacangan, tahu, tempe, susu
4. Garam
mineral
Beraneka peran khusus  Daging, sayuran
5. Vitamin  Pembentukan organ,
meningkatkan daya tahan tubuh,
memaksimalkan fungsi panca
indera
Buah-buahan, sayuran
6.  air  Pelarut, penghantar, reaksi
hidrolisis
Air minum

 




H
C
HC  C
HC  C
C
H
CH
CH

H
C
C
H

H
C
C  C
C  C
C
H
CH
CH

H
C
C
H

H
C
HC
C
H
HC
Senyawa-senyawa biokimia meliputi:

1.   KARBOHIDRAT 
   Rumus umum : Cn(H2O)m
 
 Karbohidrat  Komposisi  Terdapat dalam
  Monosakarida   
 Glukosa  C6H12O6 Buah-buahan
 Fruktosa  C6H12O6 Buah-buahan, Madu
 Galaktosa  C6H12O6  Tidak ditemukan secara alami
   
  Disakarida   
  Maltosa  Glukosa + Glukosa  Kecambah biji-bijian
  Sukrosa  Glukosa + Fruktosa  Gula tebu, gula bit
 Laktosa  Glukosa + Galaktosa  Susu
     
  Polisakarida  
  Glikogen  Polimer Glukosa  Simpanan energi hewan
  Pati Kanji  Polimer Glukosa  Simpanan energi tumbuhan
 Selulosa  Polimer Glukosa  Serat tumbuhan
  
  MONOSAKARIDA
  Berdasarkan jumlah atom C dibagi menjadi:
 
Jumlah C  Nama  Rumus  Contoh
2 Diosa C2(H2O)2 Monohidroksiasetaldehida
3 Triosa C3(H2O)3 Dihiroksiketon
Gliseraldehida
4 Tetrosa C4(H2O)4 Trihidroksibutanal
Trihidroksibutanon
5 Pentosa C5(H2O)5 Ribulosa
Deoksiribosa
Ribosa
Milosa
6 Heksosa C6(H2O)6 Glukosa
Manosa
Galaktosa
Fruktosa
  
  Berdasarkan gugus fungsinya :
  Aldosa: monosakarida yang mempunyai gugus fungsi aldehid ( alkanal )
  Ketosa: monosakarida yang mempunyai gugus fungsi keton ( alkanon )
 
  DISAKARIDA
  Disakarida dibentuk oleh 2 mol monosakarida heksosa:

Contoh :    Glukosa + Fruktosa  Æ Sukrosa + air
 
Rumusnya :   C6H12O6 + C6H12O6   Æ  C12H22O11 + H2O
 
Disakarida yang terbentuk tergantung jenis heksosa yang direaksikan



  Reaksi pada Disakarida: 
Disakarida dalam air  Reduksi :  Fehling,
Tollens, Benedict  Optik-aktif
Maltosa larut  positif  dekstro
Sukrosa larut  negatif  dekstro
Laktosa koloid  positif  dekstro

 Maltosa
  Hidrolisis 1 mol maltosa akan membentuk 2 mol glukosa.  
C12H22O11 +  H2O  Æ  C6H12O6 +C6H12O6
Maltosa       Glukosa  Glukosa
         
Maltosa mempunyai gugus aldehid bebas sehingga dapat bereaksi dengan reagen Fehling,
Tollens, dan Benedict dan disebut gula pereduksi. 
 
 Sukrosa
  Hidrolisis 1 mol sukrosa akan membentuk 1 mol glukosa dan 1 mol   fruktosa.
C12H22O11 +  H2O  Æ C6H12O6 +C6H12O6
Sukrosa       Glukosa   Fruktosa
       
Reaksi hidrolisis berlangsung dalam suasana asam dengan bantuan ini sering disebut sebagai
proses inversi dan hasilnya adalah gula invert

Laktosa
  Hidrolisis 1 mol laktosa akan membentuk 1 mol glukosa dan 1 mol galaktosa.  
C12H22O11 +  H2O  Æ  C6H12O6 +C6H12O6
Laktosa       Glukosa   Galaktosa
          
Seperti halnya maltosa, laktosa mempunyai gugus aldehid bebas sehingga dapat bereaksi
dengan reagen Fehling, Tollens, dan Benedict dan disebut gula pereduksi. 

POLISAKARIDA
  Terbentuk dari polimerisasi senyawa-senyawa monosakarida, dengan rumus umum: 

 
  Reaksi pada Polisakarida: 
Polisakarida dalam air  Reduksi :  Fehling,
Tollens, Benedict  Tes Iodium
Amilum koloid  negatif   biru
Glikogen koloid  positif  violet
Selulosa koloid  negatif  putih
 
Berdasarkan daya reduksi terhadap pereaksi Fehling, Tollens, atau Benedict
Gula terbuka : karbohidrat yang mereduksi reagen Fehling, Tollens, atau Benedict.
Gula tertutup : karbohidrat yang tidak mereduksi reagen Fehling,   Tollens, atau Benedict.

2. ASAM AMINO
Asam amino adalah monomer dari protein, yaitu asam karboksilat yang mempunyai gugus
amina ( NH2 ) pada atom C ke-2, rumus umumnya:


   
 

(C6H10O5)n
NH2
R — CH — COOH
   
Asam 2 amino asetat (glisin)
 

    

Asam 2 amino propionat (alanin)


JENIS ASAM AMINO
  Asam amino essensial (tidak dapat disintesis tubuh)
  Contoh :   isoleusin, fenilalanin, metionin, lisin, valin, treonin, triptofan, histidin
  Asam amino non essensial (dapat disintesis tubuh)
Contoh :   glisin, alanin, serin, sistein, ornitin, asam aspartat, tirosin, sistin, arginin, asam 
glutamat, norleusin

3.   PROTEIN
Senyawa organik yang terdiri dari unsur-unsur  C, H, O, N, S, P dan mempunyai massa
molekul relatif besar ( makromolekul ).

PENGGOLONGAN PROTEIN
Berdasar Ikatan Peptida
  1. Protein Dipeptida Î jumlah monomernya = 2 dan ikatan peptida = 1
  2. Protein Tripeptida Î jumlah monomernya = 3 dan ikatan peptida = 2
  3. Protein Polipeptida Î jumlah monomernya > 3 dan ikatan peptida >2

Berdasar hasil hidrolisis
  1.   Protein Sederhana 
Î hasil hidrolisisnya hanya membentuk asam α amino
  2.   Protein Majemuk 
   Î hasil hidrolisisnya membentuk asam α amino dan senyawa lain selain asam α amino

Berdasar Fungsi
No Protein  Fungsi  Contoh
1 Struktur  Proteksi, penyangga,
pergerakan
Kulit, tulang, gigi, rambut,bulu, kuku, otot,
kepompong, dll
2  Enzim  Katalisator biologis  Semua jenis enzim dalam tubuh
3  Hormon  Pengaturan fungsi tubuh  insulin
4  Transport  Pergerakan senyawa antar dan
atau intra sel
hemoglobin
5 Pertahanan  Mempertahankan diri  antibodi
6  Racun  Penyerangan   Bisa Ular dan bisa laba-laba
7  Kontraktil  sistem kontraksi otot  aktin, miosin

REAKSI IDENTIFIKASI PROTEIN 
No Pereaksi  Reaksi  Warna 
1  Biuret  Protein + NaOH + CuSO4  Merah atau ungu
2 Xantoprotein  Protein + HNO3 kuning
3  Millon  Protein + Millon  merah
Catatan Millon = larutan merkuro dalam asam nitrat


NH2
H — CH — COOH
NH2
CH3 — CH — COOH
4. LIPIDA
Senyawa organik yang berfungsi sebagai makanan tubuh.

TIGA GOLONGAN LIPIDA TERPENTING
  1.  LEMAK:  dari asam lemak + gliserol
  Lemak Jenuh ( padat )
3  Terbentuk dari asam lemak jenuh dan gliserol
3  Berbentuk padat pada suhu kamar
3  Banyak terdapat pada hewan
Lemak tak jenuh ( minyak )
3  Terbentuk dari asam lemak tak jenuh dan gliserol
3  Berbentuk cair pada suhu kamar
3  Banyak terdapat pada tumbuhan
  2.  FOSFOLIPID: dari asam lemak + asam fosfat + gliserol
  3.  STEROID: merupakan Siklo hidrokarbon

5. ASAM NUKLEAT
  DNA = Deoxyribo Nucleic Acid ( Asam Deoksiribo Nukleat )
  Basa yang terdapat dalam DNA : Adenin, Guanin, Sitosin, Thimin
 
  RNA = Ribo Nucleic Acid ( Asam Ribo Nukleat )
  Basa yang terdapat dalam RNA : Adenin, Guanin, Sitosin, Urasil

POLIMER
Polimer adalah suatu senyawa besar yang terbentuk dari kumpulan monomer-monomer, atau
unit-unit satuan yang lebih kecil.
Contoh: polisakarida (karbohidrat), protein, asam nukleat ( telah dibahas pada sub bab
sebelumnya), dan sebagai contoh lain adalah plastik, karet, fiber dan lain sebagainya.

REAKSI PEMBENTUKAN POLIMER
  1. Kondensasi
Monomer-monomer berkaitan dengan melepas molekul air dan metanol yang merupakan
molekul-molekul kecil.
Polimerisasi kondensasi terjadi pada monomer yang mempunyai gugus fungsi pada ujung-ujungnya.
   Contoh: pembentukan nilon dan dakron

2. Adisi
Monomer-monomer yang berkaitan mempunyai ikatan rangkap. Terjadi berdasarkan reaksi
adisi yaitu pemutusan ikatan rangkap menjadi ikatan tunggal. Polimerisasi adisi umumnya
bergantung pada bantuan katalis.
Contoh: pembentukan polietilen dan poliisoprena

PENGGOLONGAN POLIMER
  1.  Berdasar jenis monomer
  Homopolimer: terbentuk dari satu jenis monomer, 
Contoh:   polietilen ( etena = C2H4 ), PVC ( vinil klorida = C2H3Cl ), 
     Teflon ( tetrafluoretilen = C2F4), dll.
  Kopolimer: terbentuk dari lebih satu jenis monomer,
   Contoh:   Nilon ( asam adipat dan heksametilendiamin )
             Dakron ( etilen glikol dan asam tereftalat )
Kevlar / serat plastik tahan peluru ( fenilenandiamina dan asam tereftalat )
 


2. Berdasar asalnnya
    Polimer Alami: terdapat di alam
   Contoh:  proten, amilum, selulosa, karet, asam nukleat.
    Polimer Sintetis: dibuat di pabrik
   Contoh:  PVC, teflon, polietilena

  3.  Berdasar ketahan terhadap panas
Termoset: jika dipanaskan akan mengeras, dan tidak dapat dibentuk ulang.
Contoh:  bakelit
Termoplas: jika dipanaskan akan meliat (plastis) sehingga dapat dibentuk ulang.
Contoh:  PVC, polipropilen, dll























BAB 15
KIMIA UNSUR 
1.  Reaksi antar Halogen
Terjadi jika halogen yang bernomor atom lebih besar dalam larutan/berbentuk ion,
istilahnya “reaksi pendesakan antar halogen”.
 F–
 Cl–
 Br–
I–
F2 —  9  9  9
Cl2 —  —  9  9
Br2 — — —  9
I2  — — — —
  Keterangan : 9 terjadi reaksi, — tidak terjadi reaksi

2.  Reaksi Gas Mulia
Walaupun sukar bereaksi namun beberapa pakar kimia dapat mereaksikan unsur gas mulia
di laboratorium:
Senyawa yang pertama dibuat XePtF6 

Adapun senyawa lainnya:
  Reaksi  Senyawa Bil-Oks
  Xe + F2  RnF4 +2
  Rn + 2 F2  XeF4 +4
  Xe + 3 F2  XeF6 +4
 XeF6 +  H2O  XeOF4 + 2 HF +6
 XeF6 +  2 H2O  XeO2F2 + 4 HF +6
 XeF6 +  3 H2O  XeO3 + 6 HF +6
 XeO3 +  NaOH  NaHXeO4 +8
 4 NaHXeO4 + 8 NaOH  Na4XeO6 + Xe + 6H2O +8
  Kr + F2  KrF2 +2
  Kr + 2 F2  KrF4 +4
  Rn + F2  RnF2 +2
  Xe + 2 F2  XeF2 +6

SENYAWA KOMPLEKS
Aturan penamaan senyawa kompleks menurut IUPAC :
1.   Kation selalu disebutkan terlebih dahulu daripada anion.
2.  Nama ligan disebutkan secara berurut sesuai abjad.
  
Ligan adalah gugus molekul netral, ion atau atom yang terikat pada suatu atom logam
melalui ikatan koordinasi.    
Daftar ligan sesuai abjad.
Amin  =  NH3    ( bermuatan 0 )
Akuo  =   H2O    ( bermuatan 0 )
Bromo  =  Br–   
( bermuatan –1 )
Hidrokso =    OH–
    ( bermuatan –1 )
Iodo  =  I–
       ( bermuatan –1 )
Kloro  =  Cl–
     ( bermuatan –1 )
  Nitrito  =  NO2

    ( bermuatan –1 )
  Oksalato  =   C2O4
2– 
( bermuatan –2 )
   Siano    =     CN– 
( bermuatan –1 )
Tiosianato =   SCN– 
( bermuatan –1 )
Tiosulfato =     S2O3
2– 
( bermuatan –2 )

3.  Bila ligan lebih dari satu maka dinyatakan dengan awalan 
di- untuk 2, tri- untuk 3, tetra- untuk 4, penta- untuk lima dan seterusnya.
4.  Nama ion kompleks bermuatan positif nama unsur logamnya   menggunakan bahasa
Indonesia dan diikuti bilangan oksidasi logam tersebut dengan angka romawi dalam tanda
kurung. Sedangkan untuk ion kompleks bermuatan negatif nama unsur logamnya dalam
 bahasa Latin di akhiri –at dan diikuti bilangan oksidasi logam tersebut dengan angka
romawi dalam tanda kurung.
Unsur Nama  Kation  Anion
Al aluminium aluminium aluminat
Ag perak perak  argentat
Cr krom  krom  kromat
Co kobal  kobal  kobaltat
Cu tembaga tembaga kuprat
Ni nikel  nikel  nikelat
Zn seng  seng  zinkat
Fe besi  besi  ferrat
Mn mangan mangan manganat
Pb timbal timbal  plumbat
Au emas emas  aurat
Sn timah timah  stannat


















BAB 16
KIMIA LINGKUNGAN

Komposisi udara bersih secara alami:
Zat Rumus %  bpj
Nitrogen N2 78 780000
Oksigen O2 21 210000
Argon Ar 0,93 9300
Karbondioksida CO2 0,0315  315
Karbonmonoksida CO  0,002  20
Neon   Ne  0,0018  18
Helium He 0,0005 5
Kripton Kr 0,0001 1
Hidrogen H 0,00005 0,5
Belerangdioksida SO2 0,00001  0,1
Oksida Nitrogen  NO , NO2 0,000005  0,05
Ozon O3 0,000001  0,01
   1bpj = 10–4
%

ZAT ADITIF MAKANAN
1.   Penguat rasa atau penyedap rasa
    Mononatrium glutamat ( Monosodium glutamate = MSG ) atau disebut vetsin.



2.   Pewarna
Nama Warna Jenis  Pewarna untuk
Klorofil Hijau alami selai, agar-agar
Karamel Coklat-Hitam  alami  produk kalengan
Anato Jingga alami  minyak,keju
Beta-Karoten Kuning  alami  keju
eritrosin  merah  sintetis  saus, produk kalengan

3.   Pemanis
Nama Jenis Pemanis untuk
Sakarin sintetis  Permen 
Siklamat sintetis  Minuman ringan
Sorbitol sintetis  Selai, agar-agar
Xilitol sintetis  Permen karet
Maltitol sintetis  Permen karet

4.   Pembuat rasa dan aroma
IUPAC  trivial  Aroma dan rasa
Etil etanoat  Etil asetat  apel
Etil butanoat  Etil butirat  nanas
Oktil etanoat  Oktil asetat  jeruk
Butil metanoat  Butil format  raspberri
Etil metanoat  Etil format  rum
Amil butanoat  Amil butirat  pisang
Na – O – C – CH2 – CH2 – C – COOH
O  H
NH2
Apabila zat-zat di atas melebihi angka-angka tersebut berarti telah terjadi pencemaran udara
5. Pengawet
Nama Pengawet untuk
Asam propanoat  Roti, keju
Asam benzoat  Saos, kecap minuman ringan ( botolan )
Natrium nitrat  daging olahan, keju olahan
Natrium nitrit  daging kalengan , ikan kalengan

6.  Antioksidan
  Membantu mencegah oksidasi pada makanan, contoh:
Nama Kegunaan
Asam askorbat  Daging kalengan, Ikan kalengan, buah kalengan
BHA  ( butilhidroksianol )  lemak dan minyak
BHT ( butilhidroktoluen )  margarin dan mentega

PUPUK
  Unsur yang dibutuhkan oleh tanaman:
  Unsur Senyawa/ion  Kegunaan 
1 karbon  CO2  Menyusun karbohidrat, protein , lemak serta klorofil
2 hidrogen H2O Menyusun karbohidrat, protein , lemak serta klorofil
3 oksigen CO2 dan H2OMenyusun karbohidrat, protein , lemak serta klorofil
4 nitrogen  NO3

dan NH4
+
  Sintesis protein, merangsang pertumbuhan vegetatif
5 fosfor  HPO4
2–
 dan
H2PO4


Memacu pertumbuhan akar, memepercepat
pembentukan bunga dan mempercepat buah atu biji
matang
6 kalium  K+
  Memperlancar proses fotosintesis, membentuk
protein, pengerasan batang, meningkatkan daya
tahan tanaman dari hama
7 kalsium  Ca2+
  Mengeraskan batang dan membentuk biji
8 magnesium  Mg2+
 Membentuk klorofil
9 belerang  SO4
2–
  Menyusun protein dan membantu membentuk
klorofil

1.  Jenis-jenis pupuk organik : 
 Nama  Asal
1  Kompos  Sampah-sampah organik yang sudah mengalami
pembusukan dicampur beberapa unsur sesuai
keperluan.
2  Humus  Dari dedaunan umumnya dari jenis leguminose atau
polong-polongan.
3  Kandang  Dari kotoran hewan ternak seperti, ayam, kuda, sapi,
dan kambing

2.  Jenis-jenis pupuk anorganik :
► Pupuk Kalium   : ZK 90, ZK96, KCl
► Pupuk Nitrogen : ZA, Urea, Amonium nitrat
► Pupuk Fosfor  : Superfosfat tunggal (ES), Superfosfat ganda    
                                   (DS),  TSP
► Pupuk majemuk
Mengandung unsur hara utama N-P-K dengan komposisi tertentu, tergantung jenis
tanaman yang membutuhkan.



PESTISIDA
 
1.   Jenis-jenis pestisida:
  nama  digunakan untuk
memberantas contoh
1. bakterisida bakteri atau virus  tetramycin
2. fungisida jamur  carbendazim
3. herbisida gulma  
4. insektisida serangga  basudin
5. nematisida cacing (nematoda)  
6.  rodentisida  pengerat ( tikus )  warangan

2.   Bahan Kimia dalam pestisida:
kelompok fungsi contoh
arsen  pengendali jamur dan rayap pada kayu  As2O5
antibeku  pembeku darah hama tikus  wartarin
karbamat  umumnya untuk meracuni serangga  karbaril
organoklor  membasmi hama tanaman termasuk serangga  DDT, aldrin, dieldrin
organofosfat membasmi serangga  diaziton

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar